Lynx memperhatikan wajah Kael, Arkha dan Karim yang sedang menikmati makanan mereka. Meskipun luka-luka di tubuh mereka sudah berkurang namun tubuh mereka tetap membutuhkan makanan dan minuman untuk memulihkan energi mereka. Lynx merasa bersyukur karena dirinya datang tepat waktu. Dia tidak bisa membayangkan seandainya terlambat mengetahui keberadaan mereka, tentunya akan menjadi penyesalan seumur hidupnya.

"Kepala suku, sepertinya kamu menjadi lebih kuat sekarang," kata Arkha memulai pembicaraan. Wajahnya tidak dapat menutupi rasa bahagia karena berhasil menemukan orang yang paling penting bagi mereka, orang yang dapat menyelamatkan para suku Surya.

Karim mengangguk dan menatap Lynx dengan mata berbinar. "Betul, Arkha. Kamu ingat bagaimana kepala suku mengalahkan naga besar yang memakan leluhur Monrest hanya dengan satu pukulan? Padahal leluhur Monrest sendiri memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Bahkan, Kepala Suku bisa membuka pintu portal teleportasi dalam jumlah sangat banyak untuk menyelamatkan kita semua."

Mendengar kata-kata mereka, Lynx tersenyum. Dia tidak ingin terlalu membanggakan dirinya sendiri. "Kebetulan saja aku mendapatkan kekuatan tersebut," ujarnya dengan rendah hati.

"Aku bersyukur ada salah satu dari kita yang memiliki kekuatan besar," kata Kael sambil menghela napas, seolah beban berat telah terlepas dari tubuhnya. "Sejak kita pindah ke dimensi dunia para kultivator ini, aku sering melihat orang-orang berkekuatan besar. Aku sering ragu apakah kita bisa menghadapi dunia ini."

Kael sebelumnya berpikir kekuatan Lynx setara immortal tingkat akhir, namun setelah melihat kekuatan Lynx saat membunuh mahluk di lorong labirin yang tidak terasa mengeluarkan energi qi sedikitpun, dia menyadari kekuatan Lynx pasti jauh melebihi ranah immortal, ditambah dia mengingat saat leluhur Monrest menangkap mereka, dia mendengar prajurit Monrest menyebut tentang leluhur mereka di tingkat immortal.

"Aku yakin, meski Lynx terlihat hanya forging qi tingkat dua, kekuatan aslinya tidaklah selemah itu. Karena aku sendiri forging qi tingkat empat tidak mampu melakukan hal yang sudah dia lakukan." Batin Kael

"Kepala suku, apa yang sebenarnya terjadi setelah kita berpisah? Kami berusaha mencarimu tetapi tidak ada informasi sedikitpun tentang keberadaanmu?" Tanya Arkha.

"Aku kehilangan ingatan dan berada di desa Lianhua...". Lynx menceritakan pengalamannya sejak tiba di dunia ini dan menjelaskan Jelita yang merawatnya selama ini. Dia juga bercerita bahwa dia sudah bertemu dengan Lala berkat informasi dari Tuan Zhen. Selain itu, Lynx juga menceritakan bahwa dia sudah mengetahui tentang penduduk Surya yang menghilang karena seseorang telah mencuri artefak dimana para penduduk Surya berada untuk sementara waktu.

"Jadi Jelita bersama kepala suku selama ini? Baguslah, anggota keluarga kita sudah kita temukan lagi." Kata Karim dengan nada bahagia.

Karim kemudian menceritakan pengalamannya. "Aku sepertinya tidak sadarkan diri saat tiba di dunia ini sehingga tidak mengetahui awal saat terdampar di sini. Saat sadar, aku sudah menjadi budak dan disuruh menggali tambang batu roh," ujarnya.

Arkha juga mengangguk. "Aku juga menjadi budak, disuruh bertarung untuk tontonan orang-orang kaya. Berkat Kael, kami akhirnya terbebas dan mengikutinya menjalankan misi sambil mencari rekan-rekan kita yang lain."

"Kael, jasamu sungguh sangat besar. Aku tidak tahu harus berkata apa seandainya tidak ada dirimu yang membantu." Kata Lynx dengan tulus. "Lalu bagaimana dengan Leena dan Rira? Apakah kalian mendapatkan petunjuk keberadaan mereka?"

Dengan wajah sedih, Kael menggelengkan kepalanya. "Kami belum mendapatkan kabar tentang mereka berdua," katanya pelan.

Lynx menghela napas panjang, dia sudah menduga jawaban tersebut yang akan diterimanya."Kata Lala, kalian pernah menyelidiki tentang Ling Mei, apakah ada informasi baru mengenai dia?"

Kael mendesah dan bercerita, "Awalnya, aku sangat yakin Ling Mei adalah Leena. Banyak bukti mengarah ke sana. Namun, setelah penyelidikan lebih dalam, ternyata Ling Mei bukanlah Leena. Meskipun dia hilang ingatan, itu karena latihannya yang salah dan terluka akibat serangan balik dari formasi yang diciptakan ayahnya, Wakil Ketua Sekte Api Langit, untuk meningkatkan kemampuannya dengan cepat. Kami sudah menggali informasi tentang masa lalu Ling Mei dan yakin dia bukan Leena."

Lynx terdiam, perasaannya bercampur aduk, sedih dan bersalah menyelimutinya. Pada mulanya dia sudah merasa yakin jika Leena adalah Ling Mei, mereka adalah orang yang sama, namun semakin dia menggali, semakin keputusasaan yang dia rasakan. Dia merasa bersalah karena telah melakukan hubungan intim dengan Ling Mei, yang dikiranya adalah Leena.

Lynx kemudian melanjutkan mengobati luka-luka Kael, Arkha, dan Karim sambil mereka menceritakan hal-hal penting di dunia kultivasi, terutama tentang Benua Tianzhou. Lynx mengungkapkan bahwa dia tidak tertarik ikut campur dalam masalah dunia ini karena dia tidak bisa berlama-lama di sini. "Setelah memastikan semua penduduk Surya aman, aku akan memberi pilihan, kalian bisa tetap di dunia kultivasi ini atau ikut aku ke dunia asalku," katanya.

"Kepala suku, kami tidak ingin berpisah denganmu." Kata Arkha dengan tegas. Dia sudah bertekad akan selalu menjadi bagian dari Lynx dan tidak akan pernah mengkhianatinya.

"Arkha, dimanapun kalian nantinya berada, aku bisa dengan mudah mendatangi kalian." Kata Lynx dengan percaya diri. Karena dengan kemampuan yang kini dimilikinya, selama dia meninggalkan jejak, dia akan bisa pergi kemanapun tempat yang dia inginkan.

Kael, yang lebih berpengalaman dan bijaksana, mengingatkan Lynx. "Jika kamu ingin penduduk Surya aman di sini, satu-satunya cara adalah menolong dunia ini dari kehancuran. Hanya dengan begitu, tempat ini bisa menjadi hunian yang aman bagi mereka."

Mendengar kata-kata Kael, Lynx terdiam. "Benar juga kata Kael, aku tidak berpikir kearah sana. Mau tidak mau, aku harus memastikan tidak ada pihak yang dapat menyakiti mereka.

***

Keesokan paginya, kepanikan melanda Sekte Api Langit. Suara lonceng yang menggema memanggil semua murid untuk berkumpul di lapangan—sebuah kejadian yang sangat langka. Para murid luar dan murid inti berkumpul dalam satu tempat, saling bertukar pandang penuh kebingungan. Namun, yang membuat mereka semakin heran adalah pemandangan di atas mimbar. Ketua sekte mereka duduk dengan wajah pucat, dikelilingi oleh beberapa orang asing yang tidak mereka kenal. Salah satu dari orang asing itu duduk di samping ketua sekte, sementara di sisi lain, kakak seperguruan mereka, Ling Mei, terikat di sebuah tiang. Wajahnya pucat dan terlihat kesakitan. Para tetua dan guru-guru terlihat menundukkan kepala, seolah tidak berani menatap langsung ke arah Ling Mei.

"Apa kalian tahu kapan mereka masuk?" tanya salah satu murid senior, suaranya berbisik penuh kehati-hatian.

"Tidak, kami baru mengetahui keberadaan mereka di sekte kita. Aku tidak tahu jika ketua sekte kedatangan tamu," jawab murid lainnya yang bertugas menjaga area sekte.

"Kenapa Kak Ling Mei diikat? Apa kalian tahu apa yang terjadi?" tanya para murid wanita, suara mereka gemetar penuh kekhawatiran. Meski tidak terlalu dekat dengan Ling Mei, mereka tahu betapa murah hatinya dia. Dia sering mengajarkan gerakan-gerakan yang tidak mereka ketahui, meski sikapnya dingin dan sulit didekati. Ketegasannya justru membuat banyak murid merasakan manfaat dari latihan yang diberikan.

Tiba-tiba, gejolak energi Qi terasa di sekitar mereka. Di langit, energi spiritual seolah mengurung mereka, menimbulkan kepanikan di antara para murid.

Tetua Huang maju ke depan, menundukkan badan dan memberi hormat kepada pria tua yang duduk di depan mimbar. "Lapor, Tuan, formasi Sangkar Naga Kegelapan sudah kami aktifkan, dan kini semua murid sekte telah berkumpul."

Pria tua itu mengangguk puas, tatapan tajamnya menyapu para murid yang berkumpul di bawah mimbar.

Di tempat lain, Li Wei yang baru kembali dari desa terdekat berlari menuju puncak tempat para murid berkumpul. Setelah berkeliling hutan dan desa, dia baru menyadari sesuatu yang salah. "Kenapa aku bisa melupakan kertas formasi yang diberikan oleh Xiao Ling? Bukankah dengan kertas itu, dia akan mengetahui jika Kak Ling Mei dalam bahaya? Aku harus kembali dan menggunakan kertas itu untuk memanggilnya. Aku percaya padanya," bisik Li Wei kepada dirinya sendiri.

Namun, saat dia tiba di sekte, gerbang masuk sudah kosong. Sebelumnya, saat mendekati area sekte, dia sudah mendengar suara lonceng. Awalnya, dia mengira salah dengar, karena dari pelajaran yang dia terima, suara lonceng itu menandakan semua anggota sekte wajib berkumpul. Dengan cepat, dia berlari. Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Dia merasakan sesuatu yang aneh di belakang punggungnya.

Li Wei berbalik dan memeriksa. Saat dia mendekati suatu area, tubuhnya menabrak sesuatu seperti dinding tak terlihat. Tangannya meraba-raba, dan dia menyadari ada perisai energi yang menghalanginya keluar dari tempat tersebut.

